Si Lemah
Rabu, 25 September 2024
Pembelajaran di kelas tetap berjalan sebagaimana biasanya. Dosen menjelaskan materi nya dengan antusias dan juga penuh dengan ketulusan. Setidaknya begitulah Aku memandangnya. Namun hari ini dengan penuh kesadaran Aku merasa salah dan bahkan terbilang tidak sopan.
Pada saat ketulusan dan keantusiasan seorang dosen dalam menjalankan kewajibannya dan juga terlihat secercah harapan agar apa yang beliau sampaikan dapat mahasiswa/i terima dan pahami dengan baik, maka saat itu pula saya tidak mendengarkan penjelasan beliau dengan seksama.
Tubuh yang terlihat secara nyata ini memanglah berada di kelas. Mata memanglah tetap memandang kearah sang dosen yang sedang menjelaskan pada saat itu, tapi tidak dengan pikiran. Dengan bebasnya ia pergi melalang buana meninggalkan tubuh yang sedang membutuhkan nya Untuk mencerna ucapan dosen pada saat itu.
Hati yang juga menurut ku memiliki andil untuk tuk mampu menerima ilmu dengan baik, justru saat itu ia sedang bergelisah ria, bercemas ria, dan perasaan-perasaan lainnya yang membuatnya sulit untuk meresap ilmu, sebab dalam meresapnya ilmu membutuhkan ruang yg bersih dan tenang di dalam hati, ia (ilmu) mengenal hakikat dirinya-sebagai suatu hal yang mulia- dan memang itu lah nyatanya.
Kesadaran nya akan hakikat dirinya ini yang membuat ia berhak untuk mendapatkan tempat yang damai dan bersih. Bukan tempat yang bergemuruh sebab ketidak yakinan kepada sang Akbar dan kotor pula dengan kemaksiatan.
Alhasil tidak ada ilmu yang kubawa saat jam perkuliahan telah berakhir. Tidak ada catatan-catatan yang berisikan ilmu pengetahuan yang menghiasi buku tulisku. Ini jelas hal yang sangat merugikan. Saat menyadari apa yang telah kulakukan selama pembelajaran berlangsung yang terjadi sebab adanya hal yang menggangu hati dan pikiran ku tiba-tiba aku teringat sebuah pesan yang kiranya seperti ini
“Bahwa saya selalu ingatkan kepada diri pribadi dan Anda semua, kalau sudah pulang tugas, pulang kerja atau pulang dari kantor, jangan pulang dulu ke rumah!” tutur Ustadz Adi.
“Kalau dekat dengan masjid, mampirlah ke masjid dulu, atau kalau di kantornya ada masjid, ke masjid dulu. Kalau masjidnya dekat rumah, ke masjid dulu sebelum ke rumah,”
“Silakan rasakan bedanya! Ambil air wudhu, masuk ke masjid dan shalat dua rakaat Tahiyatul Masjid, lalu berdoa:
‘Ya Allah, aku telah berikhtiar seperti apa yang telah Engkau perintahkan. Maka aku memohon Janji-Mu seperti apa yang telah Engkau janjikan. Anugerahkan kami rezeki yang halal Ya Allah. Berikan kami bimbingan dalam kebaikan. Ya Allah, yang tidak beriman pun Engkau berikan rezeki, sedangkan aku beriman kepada-Mu, aku yakin dengan-Mu, dan Kau tidak pernah menyalahi Janji-Mu.’
"Sumpah adem kali" kalimat yang selalu aku ucapkan jika sedang berada dimesjid. Kuluapkan segala kegelisahan, ketakutan, dan kecemasan ku kepada Allah. Benar-benar tidak ada yang mampu menyelesaikan segala urusan kita selain Allah jangan kan mengharapkan orang lain bahkan diri sendiri pun tak mampu menyelesaikan urusan diri sendiri ini.
" Ya Allah rasanya benar-benar berat. Rasanya awq betul-betul gak kuat. Rasanya awq betul tidak mampu ya Allah tolong la awq ya Allah awq harus minta tolong sama siapa lagi ya Allah. Awq gk mampu buat apa-apa pun. Awq lemah ya Allah.
Kegelisahan ini lahir dari hal yang menurut orang-orang mungkin merupakan hal yang kecil. Namun bagiku yang memiliki jiwa yang menurutku tidak baik-baik saja ini. Hal tersebut tidaklah hal yang sederhana. Aku pernah mendengar bahwa masalah itu ada yang ekternal dan ada yang internal. Masalah ekternal yaitu masalah yang datang dari luar seperti lingkungan atau lain sebagainya dan masalah internal itu berada di dalam diri sendiri seperti iri, dengki, amarah, takut berlebihan, insecure dll. Berita buruknya dari kedua masalah tersebut yang lebih sulit dalam menghadapinya yaitu masalah internal.
Aku sejujurnya sering bertanya kepada Allah kenapa aku bisa terkena masalah internal ini. Kenapa aku memiliki internal yang menurut ku lemah, insecure, penakut. Jujur menghadapi perasaan-perasaaan itu di setiap harinya rasanya sangat menguras energi. Sangat melelahkan. Aku selalu berusaha untuk dapat sembuh dari rasa-rasa / masalah internal tersebut. Namun aku masih belum berhasil.
Masalah nya menjadi tidak sederhana sebab dari masalah di dalam internal diriku. Aku takut, aku cemas, aku terus merasa tidak mampu karena aku di tetapkan oleh pihak lab untuk melakukan praktek lapangan di sekolah SMK teknik. Selama aku hidup tidak pernah terlintas di dalam pikiran ku untuk menjadi pengajar di SMK jurusan teknik pula. Aku hanya seorang mahasiswi jurusan bahasa Arab yang sangat jauh kaitannya dengan itu.
Setelah melakukan observasi kesekolah, maka sekolah mengkonfirmasi kan bahwa sekolah tidak mengajarkan pelajaran bahasa Arab. Namun sekolah akan mengalihkan anak-anak bahasa Arab untuk mengajar mata pelajaran agama Islam. Pertama, aku merasa tidak mampu mengajar anak SMK jurusan teknik pula yang aku yakini bahwa siswa/i dominan laki-laki. Kedua, aku merasa tidak mampu karena ukuran tubuh ku yang pendek dan sangat tidak sesuai untuk menjadi pengajar bagi mereka yang aku yakini akan lebih besar dari ku. Ketiga, aku merasa tidak dapat mengajar dengan optimal karena mata pelajaran nya memang bukanlah jurusanku. Keempat, aku merasa menyesal karena dengan aku tidak mengajarkan mata pelajaran yang sesuai dengan jurusanku itu artinya aku tidak bisa mencari judul untuk tugas akhir kuliah ku sembari berjalannya PPL di sekolah tersebut. Kelima, aku merasa tidak mampu untuk mengakrabkan diri dengan mereka yang mana pastinya mengajarkan anak SMK tidak bisa seperti mengajar TK di SMK aku perlu mampu untuk menjadikan mereka teman/adik dan aku tidak mahir dalam hal itu. Aku orang yang garing.
Sungguh ini bukan hal yang mudag bagi seorang yang seperti diriku ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya benar-bemar lelah memikirkannya. Bahkan hingga detik ini rasa itu masih saja menghantui. Bagaimana mana dengan doa-doa itu? Aku rasa aku berbohong. Aku rasa aku tidak benar-benar berserah kepada-NYA. Aku rasa aku tidak benar-benar yakin kepada-NYA. Aku rasa masih ada di dalam diriku keakuan yang sedang terus ingin berusaha dengan diri sendiri untuk menyelesaikan masalah ini yang bahkan tidak dapat di selesaikan dengan keakuan ini.
Sungguh aku lelah, takut, cemas, insecure. Perasaan-perasaan melelahkan ini tolong lah untuk pergi. Hadirlah enggkau perasaan-perasaan tenang dan yakin akan keajaiban, pertolongan yang akan Allah hadirkan dalam perjalanan kehidupan ini. Sembuh lah engkau wahai masalah internal.
Ya Allah awq capek, awq takut, awq lemah. Tolong awq ya Allah.

Komentar
Posting Komentar